New Media, Jawaban Taktis Reinkarnasi Sumpah Pemuda

Berikut adalah draft artikel saya yang dimuat di Harian Seputar Indonesia, 7 November 2011.

Sumpah pemuda, tak lebih dari hanya ucapan tanpa makna. Apabila kita mengulas sejarah, merenungkannya, tapi tak berani menyamai mereka. Menjadi saksi keberanian pemuda dalam menyusun dan mengikrarkan sumpah dalam diri mereka. Pertanyaan ini mengusik kesadaran kita, apakah di era teknologi informasi sekarang ini, pemuda siap berikrar kembali untuk terus mempertahankan Sumpah Pemuda hingga negara ini setidaknya bergeser ke arah yang lebih baik?

Pertanyaan tersebut dapat terjawab oleh perkembangan teknologi komunikasi akhir-akhir ini. Booming-nya perkembangan iptek mengakibatkan munculnya teknologi-teknologi yang mendukung interkoneksi komunikasi new media. Teknologi jejaring sosial seperti: Facebook, Twitter, Blog, Youtube, dan forum diskusi online lainnya menjelma menjadi tren yang begitu digandrungi oleh generasi muda.

Dengan tren jumlah pengguna yang cenderung meningkat signifikan dengan cepat, hal ini membuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk melakukan transformasi sosial melalui media-media tersebut. Lebih lanjut, teknologi new media yang berkembang sekarang seharusnya mampu dijadikan cambukan bagi generasi muda Indonesia untuk aktif bergerak membawa dinamika perubahan bangsa dan saran berkompetisi di kancah global.

Sampai hari ini, aktivitas generasi pemuda di Indonesia tidak hanya dibentuk oleh penggunaan teknologi, tapi juga disokong oleh proses pembelajaran berkesinambungan antara penguasaan teknologi dan perkembangan aktivitas pemuda itu sendiri. Ada hubungan timbal balik antara bagaimana aktivitas pemuda dibentuk oleh penggunaan internet dan new media, serta bagaimana internet dan new media tadi menjalankan peran sebagai interface aktivitas pemuda.

Sayangnya, selama ini media-media yang ada terbatas hanya menjadikan pemuda sebagai konsumen atas produk-produk yang mereka hasilkan. Mereka kurang memberikan akses yang memadai pada keaktifan generasi muda untuk menyuarakan opini mereka, baik yang terkait dengan persoalan-persoalan atau isu-isu strategis yang berkembang di tataran lingkungan keluarga masyarakat maupun di tatanan negara.

Contohnya, dalam forum pembahasan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, media khususnya televisi dan radio hanya berfokus pada kelompok politisi, akademisi ataupun bakan selebriti untuk menyampaikan opini mereka. Media-media tersebut cenderung melupakan urgensitas suara pemuda sebagai elemen masyarakat yang juga mempunya peran yang tak kalah penting. Kebekuan dan keterbatasan akses pemuda atas polemik penting di media inilah yang kemudian juga melahirkan fenomena sebagian pemuda beralih pada teknologi jejaring media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Blog untuk meyuarakan pemikiran-pemikiran mereka.

Namun, apakah dinamika pemuda di jejaring sosial ini membuat mereka lebih berdaya atau suara mereka lebih didengarkan? Belum tentu, karena pemanfaatan new media sejauh ini baru dilakukan secara individu, institusi, dan isidental. Tidak terintegrasinya suara individu-individu pemuda dalam satu wadah gerakan yang solid hanya akna menjadikan pemanfaatan new media tidak efektif untuk tujuan perubahan yang hakiki.

Setiap pergerakan seperti tidak bersambung di hulu dan hilir. Situasi ini lebih jauh menghasilkan generasi-generasi muda yang tidak peduli dan tidak peka terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat walaupun sebetulnya persoalan tersebut bisa diselesaikan secara efisien. Mengapa? Karena mereka lebih mementingkan elemen-elemen yang ingin dituju oleh organisasi yang mereka naungi. Di sini tidak ada intermediary dan kesinambungan antar gerakan-gerakan yang ada.

Selayaknya harus ada gerakan di bawah naungan satu atap yang ditujukan untuk membangun gerakan yang mampu menampung pemuda untuk mereposisi diri dari sekedar konsumen pasif media menjadi pelaku aktif penyebaran informasi. Hal ini terkait dengan suara pemuda sendiri terhadap perosalan-persoalan strategis yang berkembang di masyarakat, misalnya kasus korupsi yang marak, masalah perbatasan terluar Indonesia, perdebatan subsidi ekonomi, komersialisasi pendidikan, hingga konflik Papua, dll. Untuk mendukung hal ini, pemuda perlu terlebih dahulu merebut kembali peran mereka sebagai pemain utama media.

Akses atas media ini nantinya bisa dimanfaatkan oleh generasi muda untuk mempublikasikan output-output yang berisi suara atau masukan pemuda untuk masyarakat dan tatanan negara terkait isu yang meresahkan publik. output tersebut bisa berupa tulisan, rekaman audio, atau bahkan video. Untuk memperluas gaung gerakan ini dan memperbesar segmen publikasi suara pemuda, gerakan ini harus memosisikan diri sebagai penghubung antara pemanfaaatan jejaring sosial, yakni Facebook, Twitter, Blog, dll dengan konflik yang ada.

Lebih lanjut, dengan memanfaatkan media-media tersebut di atas, transformasi sosial di masyarakat sangat mungkin terwujud. Hal ini merupakan sebuah langkah maju bagi generasi muda dalam menjaga semangat Sumpah Pemuda demi keutuhan NKRI. Namun, jalan dan perjuangan masih berat, panjang, dan berliku. Generasi muda harus mampu menjaga semangat dan teguh pada idealisme masing-masing untuk terus menjadi motor pembangunan Indonesia demi mencapai masyarakat adil, makmur, dan sejahtera. Generasi muda Indonesia saat ini sudah memiliki modal besar teknologi new media untuk melakukannya, tinggal bagaimana niat dan kerelaan mereka untuk mewujudkannya betul-betul diterapkan secara konsisten.

Selamat Hari Sumpah Pemuda

Tennis Blog Relaunched!

Hello all! I am glad to inform that I have been reactivated my very own personal tennis blog. Yes, I am talking about Tennis Persona, a place where you can read all the latest stories about female tennis stuffs, get information on the most important current tennis events and matches, and watch amusing tennis videos. If you love, like or just play tennis, then that is the website for you!

If you have time to spare please don’t hesitate for just stopping by. You can go to the ‘Affiliations’ bar on the right side of this page and directly click the menu ‘My Tennis Blog’ or just click the link below!

Tennis Persona

Thank you

ASEAN, Aksioma Panggung Eksistensi Indonesia

Suatu stabilitas dan keamanan ASEAN tidak akan terwujud tanpa didukung oleh kemakmuran ekonomi dan pemerataan. Sebaliknya, pembangunan ekonomi dan kesejahteraan tidak akan pernah kongruen tanpa adanya dukungan kondisi stabil yang kondusif. Timbal balik antara kerjasama ekonomi, politik, keamanan, dan sosial budaya ASEAN, pada akhirnya, akan menciptakan perdamaian yang hakiki. Namun demikian, fondasi sosial masyarakat yang ingin dituju bersama tidak akan bisa terwujud tanpa adanya sosialisasi secara luas, berjangka panjang, dan berkelanjutan.

Identitas regional ASEAN, paling tidak, merujuk pada arti identitas bersama yang mencakup keseluruhan elemen masyarakat ASEAN. Keberagaman aspek ekonomi, politik dll tersebut menjadi karakteristik utama ASEAN sekaligus menjadi kesulitan dalam menciptakan common identity akibat tingginya aspek diversity. Untuk mendorong tumbuhnya identitas regional ASEAN ini, perlu ada nilai yang dipromosikan seperti unity in diversity, guna mempercepat proses integrasi ASEAN dan mencegah tindakan-tindakan disintegrasi regional.

Pengalaman Indonesia yang sudah berabad-abad dalam memiliki dan mengimplementasi semboyan Bhinneka Tunggal Ika, ada baiknya bisa dipakai sebagai contoh untuk mewujudkan Komunitas ASEAN yang bermartabat. Sebagai ketua ASEAN, Indonesia perlu mengupayakan nilai-nilai luhur demokrasi serta hak sipil untuk dijadikan sebagai nilai dasar ASEAN. Namun hal ini tidak pernah mudah untuk diwujudkan karena, sekali lagi, nilai demokrasi di beberapa negara ASEAN bertolak belakang antara satu dengan yang lainnya.

Hal ini akan menjadi semakin krusial dan genting ketika terjadi konflik kepentingan nasional antar negara anggota, karena kepentingan dan identitas nasional masing-masing akan lebih dikedepankan dibandingkan kepentingan regional. Dengan kata lain, keterikatan atas kepentingan nasional anggota ASEAN masih amat kuat sehingga memperlambat proses integrasi di tubuh ASEAN.

Permasalahan tersebut sedikit demi sedikit mulai terjawab. Tahun 2008 lalu misalnya, Piagam ASEAN telah diratifikasi bersama oleh kesepuluh negara anggota. Sekarang tingal bagaimana perjanjian tersebut direalisasikan dalam wujud konkrit bagi masyarakat ASEAN. Faktor yang paling signifikan bagi efektivitas integrasi ASEAN ini dapat terlihat jelas dalam minimnya keterlibatan masyarakat ASEAN dan rapuhnya keputusan petinggi ASEAN yang masih saja didasarkan pada consensus serta sistem vote.

Padahal, jika meniliki sejarah, selama ini ASEAN telah memberikan sumbangan tertentu bagi stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara, ambil contoh penyelesaian konflik Kamboja dan Vietnam. Namun, ASEAN tidak bisa berbuat banyak dalam menangani kasus HAM di Myanmar dan konflik Kuil Preah Vihear di perbatasan Thailand-Kamboja yang akhir-akhir ini memanas kembali. Permasalahan keinginan Timor Leste untuk bergabung dengan ASEAN juga menimbulkan riak-riak kecil di tubuh ASEAN. Banyak spekulasi di antara negara anggota (terutama Indonesia, Singapura dan Laos) bahwa ASEAN harus memiliki penilaian khusus dan mempertimbangkan SWOT Analysis bergabungnya Timor Leste ke ASEAN, tidak bisa diputuskan isidental setahun atau dua tahun.

Lebih dari itu, masyarakat ASEAN harus mendapat perhatian yang lebih besar dalam mewujudkan komunitas ASEAN melalui situasi kondusif dalam hal kebebasan berpendapat dan penegakan HAM. Pemerintah anggota ASEAN bertanggung jawab untuk menberikan perlindungan pada rakyatnya, tetapi hal tersebut akan kembali pada masyarakat itu sendiri dalam mengartikan kebebasan yang diberikan. Masyarakat ASEAN harus berpartisipasi secara bottom-up agar kepentingan seluruh elemen masyarakat dapat terjawab.

Jika ASEAN bisa menampilkan wajah yang tetap stabil, aman dan damai, maka hal itu sudah merupakan sumbangan positif bagi peradaban dunia. Keberhasilan ASEAN dalam membentuk keharmonisan bisa dijadikan model bagi terciptanya capacity building block untuk pembangunan kawasan yang lebih luas lagi. Dengan pendekatan seperti ini, Indonesia, sebagai arsitektur kawasan yang baru haruslah memainkan peran sentral sehingga proses integrasi ini terjadi secara keberlanjutan, tidak terputus sama sekali ketika jabatan ketua ASEAN berakhir dan beralih ke negara ASEAN lain.

Yang jelas, Indonesia sebagai arsitektur ASEAN harus bisa menjaga stabilitas kawasan untuk membangun ASEAN yang lebih baik. Indonesia harus berani menolak adanya dominasi kekuatan tertentu di kawasan ASEAN karena yang dibutuhkan ASEAN saat ini adalah keseimbangan dan sikap saling memahami. Sebagai negara ‘terbesar’ di kawasan, Indonesia mau tidak mau harus mampu membawa ASEAN yang berani adaptif dan visioner, serta berangkat dari konsep dan pikiran yang matang seperti prinsip yang selama ini dianut oleh ASEAN.

Good Insurgents

At a sudden-event yesterday, I was talking to someone who, like me, is relatively new to ‘the things’. He mentioned that many people had told him that ‘the things’ is the type of thing that will bring out whatever is deep inside you, whether it’s good or evil. I had never heard that before, but I thought it was interesting and probably true. This is related to the fact that last month I teased that I have something in the works professionally that I’m excited about.

Yeah treasures. Don’t you love uncovering one?  I’ve spent the past hour delving into a blog I discovered tonight. I can’t even remember the trail that led me to it. It’s possible that you might even take a look and wonder why I’m so excited. But if you knew me, you’d quickly nod your head in complete understanding.

Think about when you meet someone with whom you seem to instantaneously connect. You start talking and it seems you relate on every topic. They say things that you’ve thought or said before. And they have a ton of great ideas on things that are near and dear to your own heart. Time seems to stand still when you spend time with them. That can happen online too.

I haven’t really met Nicoulas Kristof, Patrick Guntensperger etc and most likely never will, but their blog is chalk full of creative ideas, resources and inspiration that met me in so many places that are “me.” It was like I just returned from having coffee with a long-time mentor friend. How fun!

Now, unless you’re into writing, spiritual transformation, cooking, books, organization or photography, their blog may do nothing for you. That’s ok. But I wonder what blogs may have led to a similar reaction for you. Who do you follow that you enjoy like you would a friend, learn from like a mentor and connect with because they share similar views, interests and passions?

Technology makes our world getting more flat!

I MISStanbul

It might be too late to share about the sensational atmosphere last August in Istanbul. But I believe that it’s better be late than never. I miss the congress, the people, and of course the weather (NOOOOO)!

After two weeks of countless workshops, thoughts sharing, trying to find solution for our regional issues, learning the true meaning of Imece, and also, learning so many other cultural values, we finally come to the very last moments.

The challenge that congresses itself such as this one face is that youth often lose themselves in the complexities of the follow up projects. In an global environment where youth‘s family values are said to be diminishing in the rise of an individualistic approach geared towards financial prosperity, this project is a heartwarming reminder that family is unequivocally important. The concept of a larger aile is something that community worldwide need to adopt. It is a perfectly simple and feasible mechanism that will allow those in need to get the aid they require. The extravagant budget aside, the concept of taking the effort to coordinate and sustain a simple donation bazaar for the community is something one must refuse to let pass by without accolade.

So if you have embraced the concept of Imece, take this as inspiration and try to better the lives of your extended aile, regardless of language, race or religion. And you have to imagine a white boat in the Marmara Sea. Party music is playing and 20 young and attractive people are dancing on the deck. What is it? Shooting for a commercial? No. This is an action of the Aspendos Family! Our favorite song during the project was Alors on Danse (Let’s dance) by Stromae. The family’s report will show that even if our project started with nothing but fun, we had still work to do.

Friday morning started with guided tour to the Ministry of Youth and Atatürk’s house. Everyone knows Atatürk as the person who brought democracy to Turkey. It is impossible to staying Turkey without observing his picture, at least, once a day.

After the tour, we took a boat trip along the Istanbul coast. We danced and screamed for three hours, and then most of us took a bath in the sea. We were glad to have so many Turks in our family as they told us about Turkish (Muslim) traditions like Ramadan.

On the second day, we were working at an archeological site. We visited schools, universities and a local theater, where we learned a Turkish dance and how to play the drums. We also attended a music therapy of disabled children and met with local authorities in Istanbul. On the last day, we cleaned a picnic site and played sack race.

In general, our family used to dance and sing all day and all night long: on the campus, on the boat, in busses, in front of busses, at discos, in schools, in pedestrian areas and in shopping centers. During the Action Project, we learned a lot about Turkey and our family members’ cultures.

These are very different opinions on action projects that were similar in nature. However, Spud from the US shared a few of his insights on the topic Imece. “I think the problem arose from different expectations. It would have been a good idea to have starting event, so people would understand beforehand what the projects would be like.”

One can share both feelings. It can, however seriously be questioned as to whether there might have been other intentions behind organizing the project, something perhaps more sinister than simply helping the delegates understand the concept of Imece.

Remember this – if a society is to prosper, it must prosper as one! Let us continue integration, Alors on danse!

Do You Journal?

Do you journal?

Journaling is one of my favorite times, both past and recent.  I love to journal. I journal by hand, I type my journals.  A journal is not a diary that you use to keep as a kid.  It is a place where you come to know yourself.  Who you truly are and what makes you tick.  It is a place to explore problems and find resolutions.  It is a place to share your anger or happiness.  It is a place to record memories and people, places and things.  It is a safe place.

Journaling has helped me handle a lot of life’s problems.  It is like I am speaking directly to God and receive my answer right back.  I can write whatever I want, however I want about my problem.  I can view my problem from the inside out.  And you know what?  It helps.  It seems like once the problem is down on paper you can step back and get different perspectives about it.  It really helps.

I journal about small things, big things, changes any thing.  I use my journal as a mind dump, when I am overwhelmed, I pour everything out on the page and let it stare back at me instead of swim around in my head and heart.  I rarely share my journal with anyone.  Some day my dad will read my journal and I can only pray they understand why I wrote what I wrote.  Without my journal I wouldn’t be me.

Do you journal?  You should.

I love to buy to new journals, to receive them as gifts.  To feel the clean, crisp paper.  I must have lines, some people don’t.  I love to find new pens that write well and make the pages come alive with my words, thoughts, etc. I like the words to jump of the page at me.  I tend to write large so I like large journals.  I just can’t seem to get comfortable with those little ones that fit in those little purses.  I have a large purse and my large journal fits right in next to my notes.

We all make choices. Some choose to lean on trash cans, though they probably shouldn’t. Some choose not to wash their hands, though soap wouldn’t kill them. Some of us choose not to eat whatever was breeding on top of a trash can.

I just wanted to share my journaling obsession today.

‘Tegaknya’ Estetika Hukum

Izinkan saya yang awam hukum untuk mengulas pandangan saya terhadap propaganda kekuasaan akhir-akhir ini.

Pada periode sekarang ini, KPK yang sebelumnya menjadi lembaga yang disegani dan ditakuti oleh pihak-pihak yang bermasalah dengan korupsi namun saat ini wibawanya mulai mengendur. Ini terlihat dari sejumlah panggilan kepada saksi dan tersangka mulai diabaikan. Bahkan dalam kasus suap terhadap auditor BPK (sampel) di Bekasi, sejumlah camat yang dipanggil sebagai saksi oleh KPK pun berani mangkir.

Kalaupun pada awalnya dakwaan panggilan dinilai sebagai prestasi, salah satu prestasi luar biasa yang diraih KPK sepanjang tahun 2010 ini adalah dalam penangangan kasus korupsi cek pelawat. Komisi ini menetapkan 26 anggota DPR periode 1999-2004 sebagai tersangka kasus suap. Mereka diduga menerima suap berupa cek perjalanan berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom. Meskipun yang diproses baru hanya penerima suap, belum mengarah ke perantara dan pemberi suap, namun langkah ini memberikan harapan baru mulai membaiknya kinerja KPK.

Dari aspek penindakan, meskipun pimpinan KPK menyatakan adanya peningkatan secara kuantitas kasus yang ditangani, namun faktanya secara kualitas masih terdapat kasus korupsi kelas kakap belum dituntaskan oleh KPK hingga saat ini. Sebut saja, dalam kasus pengadaan mobil pemadam kebakaran, Hari Sabarno, mantan  Mendagri ini tidak juga dijerat. Padahal sudah sering para terdakwa yang dijaring kasus serupa, termasuk bekas Dirjen Otonomi Daerah Oentarto Sindung Mawardi, menyebutkan keterlibatannya. Peran Hari Sabarno juga disebut lagi oleh majelis hakim Pengadilan Korupsi, yang memvonis Oentarto dengan hukuman tiga tahun penjara.

Tidak hanya penindakan, dalam aspek pencegahan kinerja KPK juga banyak menuai kritik. Sejumlah kasus kekayaan pejabat publik yang dinilai mencurigakan tidak ditindaklanjuti oleh KPK. Misalnya saja tentang harta hibah yang jumlahnya tidak wajar yang dimiliki oleh Hadi Purnomo, mantan Dirjen Pajak yang saat ini menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). KPK juga terkesan tidak dapat berbuat apa-apa ketika hampir sepertiga anggota dewan di Senayan belum menyerahkan laporan kekayaaan. Padahal, laporan ini wajib disampaikan kepada anggota dewan ketika terpilih menjadi anggota parlemen di Senayan.  KPK juga terkesan hanya menjadi ’’Komisi Pencatat Kekayaan’’, karena tidak menindaklanjuti temuan kekayaan penyelenggara negara yang dinilai mencurigakan. Penurunan kinerja KPK tidak bisa dilepaskan dari masih adanya upaya pelemahan terhadap KPK. Mulai dari eksekutif, legislatif dan juga yudikatif.

Dalam lingkup KPK, lengkapnya kepemimpinan lembaga itu kini dengan kehadiran Busyro Muqoddas yang bertipe manis pedas, mungkin bisa membuat KPK bangkit dari keterpurukan. Begitu pula dengan kehadiran Basrief Arief bagi Kejaksaan Agung dan jajarannya. Mungkin saja juga demikian dengan kehadiran Timur Pradopo di Polri. Ketiganya bisa memulai dengan membenahi internal lembaga masing-masing, untuk pertama-tama menjadi lebih bersih bagi Kejaksaan Agung dan Polri, serta menjadi lebih berani bagi KPK. Lalu melakukan gebrakan yang lebih mengesankan. Tetapi akankah? Merupakan tanda tanya besar.

Bisa kita lihat, cobaan Busyro saat memimpin KY sudah bisa dikatakan ekstrim dan berat. Di tengah giat-giatnya Busyro membersihkan lembaga peradilan, kewenangan KY justru dikebiri. Mahkamah Konstitusi telah mengabulkan permohohan yang diajukan sejumlah hakim agung yang mempermasalahkan kewenangan KY. Akhirnya, MK memutuskan bahwa KY tidak dapat lagi memeriksa hakim dari tingkat pertama hingga hakim agung. Tugas KY pun hanya untuk menjaga nilai luhur hakim, dan juga hanya menyeleksi calon hakim agung.

Persoalan lain yang juga muncul dibalik menurunnya kinerja KPK adalah karena lembaga ini tidak memiliki road map pemberantasan korupsi yang jelas. Kondisi ini menimbulkan kesan semua kasus korupsi dapat ditangani oleh KPK tanpa mempertimbangkan prioritas pada nilai kerugian negara yang besar maupun aktor yang terlibat. Fokus isu di sektor pertambangan, kehutanan, pendidikan dan pelayanan publik sebagai bagian strategi bidang penindakan KPK di tahun 2010 juga tidak dilaksanakan secara konsisten. Terbukti tidak banyak kasus yang ditangani di empat sektor tersebut berhasil dituntaskan hingga ke pengadilan.

Dampak dari sejumlah pelemahan terhadap KPK sungguh membuat lembaga ini kurang solid. Tidak dapat dipungkiri, KPK masih mengandalkan tenaga penyidik dan penuntutan dari kepolisian dan kejaksaan. Namun inilah tantangan bagi pimpinan KPK untuk tetap serius memerangi korupsi dalam kondisi sesulit apa pun. Tidak selayaknya kepercayaan publik yang begitu besar terhadap lembaga ini disia-siakan.

Sedikit banyak, semua itu sangat bergantung kepada kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, khususnya dalam komitmennya terhadap pemberantasan korupsi. Sejauh yang bisa terlihat hingga kini, dalam masalah pemberantasan korupsi, pemerintahan SBY masih berada dalam sekedar fase retorika. Tak ada sesuatu yang nyata yang memperlihatkan kuatnya dorongan SBY bagi suatu pemberantasan korupsi, jangankan yang bersifat masif dan spektakuler, untuk tingkat yang biasa saja sejalan dengan makin menghebatnya praktek korupsi dan praktek mafia hukum, belum ada sesuatu yang berarti. Agaknya akan tetap demikian sampai berakhirnya masa kepresidenan SBY yang kedua. Bila SBY betul-betul concern dengan apa yang selalu diucapkannya terkait dengan pemberantasan korupsi, maka sudah akan terlihat jejak telapak tangannya dalam penindakan kasus-kasus semacam skandal Bank Century, kasus mafia hukum dan mafia pajak, kasus rekening tak wajar para perwira Polri, kasus-kasus gratifikasi dan suap yang melibatkan sejumlah kalangan pendukung politiknya, dan sebagainya.

Apa yang menghalangi suatu rezim kekuasaan untuk membongkar tuntas kasus-kasus korupsi? Salah satu yang paling lazim adalah terdapatnya tali-temali keterkaitan tindakan korupsi itu dengan realita kebutuhan dana politik. Itu jugakah yang sedang terjadi di kalangan kekuasaan pemerintahan dan kekuasan politik Indonesia saat ini? Masuknya Busyro Muqodas sebagai pimpinan KPK untuk menggantikan Antasari Azhar setidaknya menjadi harapan dan amunisi baru bagi institusi KPK di masa mendatang. Kita semua berharap KPK mendatang menjadi lebih baik, berjaya dan kembali ditakuti para koruptor.

Harapan Masif Sistematika Hukum

Sangat retoris jika saya hanya menceritakan kembali kasus demi kasus hukum dan ribuan koloninya tanpa ada sentilan skeptis. Memang, terlalu banyak variabel yang harus diperhatikan. Dikatakan narsis tidak, disebut vandal pun juga kurang bijak. Di sini perlu ditekankan bahwa reformasi hukum berjalan tidak hanya sekedar pembaharuan perundang-undangan, tetapi juga asumsi atau pendapat dasar dari tujuan lembaga hukum. Perlu terjadi asumsi dasar hukum yang semula berdasarkan diskriminatif dan ketidakmerataan sosial menjadi dengan ide-ide persamaan di muka hukum dan keadilan sosial.

Hukum dianggap aksesoris belaka, sebagai pelengkap tatanan bernegara. Sebenarnya negara ini bukan berlandaskan atas hukum, tapi hukum rimba di mana yang paling kuat adalah yang mengatur segalanya. Banyak di antara mereka tidak mempunyai jabatan, tapi memiliki kekuatan uang. Uang adalah fondasi kekuatan super sang mafia hukum. Menilik contoh kasus Gayus, para penjaga rutan dengan mudah tunduk dengan materi yang tak berbatas. Mentalitas keropos para penegak hukum sudah merupakan cerita lama di jagat hukum Indonesia.

Loyalitas dan integritas mereka dapat dengan mudah diukur dengan materi. Persoalannya, apakah kasus Gayus ini sekadar masalah mentalitas? Bagaimanapun, hasrat tidak akan pernah bisa menekan rasionalitas. Ketika hasrat semakin ditekan, maka upaya yang dilakukan akan semakin kuat pula. Memperbaiki seleksi awal, memperbaiki moralitas penegak hukum, mengawasi secara ketat dan memberikan sanksi tegas kepada penegak hukum tidak cukup jika melihat kondisi hukum yang sedemikian kronis.

Perlu ditelusuri, bagaimana mekanisme penyuapan yang terjadi dalam kasus Gayus. Mengapa para penjaga rutan dapat dengan mudahnya bertransaksi dengan para koruptor? Masalah utama ini yang luput dari perhatian kita selama ini. Seharusnya ruang yang menghubungkan interaksi antara tahanan dengan petugas tahanan ditutup. Semakin terbuka ruang interaksi, semakin tinggi potensi terjadinya penyalahgunaan kekuasaan atau suap. Para penegak hukum kelas kakap yang ‘tidak punya’ power ini pasti akan masuk dalam perangkap kekuasaan para koruptor. Jika penegak hukum sudah masuk ke dalam lingkaran kekuasaan koruptor, dengan mudah koruptor tersebut mengaturnya. Meskipun dipenjara, hak-hak istimewa yang melekat pada koruptor tidak begitu saja hilang. Posisi tawar yang tinggi sebagai mantan orang kuat membuat nyali para penegak hukum ciut. Presiden mesti mengambil langkah serius untuk mempertimbangkan hal ini. Para koruptor mesti dilepaskan seluruh hak-hak istimewanya.

Lalu, langkah selanjutnya adalah penyitaan secara tuntas harta koruptor dan pemiskinan mereka seperti yang dikatakan Ketua MK Moh Mahfud MD. Ketika para koruptor menjadi miskin dan hak-hak istimewanya dicabut, posisi mereka akan sama seperti warga biasa. Pasal-pasal lembek mengenai masa tahanan koruptor dan hukuman minimal bagi koruptor agaknya juga perlu direvisi. Efek jera perlu diberikan kepada koruptor, misalnya hukuman maksimal atau hukuman mati, agar memberikan terapi kejut bagi para koruptor. Mengenai hukuman mati, duduk persoalannya pada upaya itu akan melanggar HAM. Hukuman mati logis sepanjang para koruptor itu sendiri telah mencederai HAM masyarakat. Sebab, uang yang seharusnya dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat justru dipakai untuk kesenangan mereka sendiri.

Yang sangat menarik, belum ada tindakan signifikan untuk mengonfirmasi dan-atau melakukan tindakan tegas lain terhadap aparatur lembaga penegakan hukum di lingkungan kejaksaan dan pengadilan. Kepala Kejaksaan Agung hanya menyatakan ada keanehan dalam penanganan kasus dimaksud, sedangkan para jaksa peneliti menolak dengan keras tuduhan keterlibatannya. Tampaknya agak sulit mengharapkan upaya reformasi serius dan signifikan oleh lembaga penegak hukum. Untuk itu, semua pihak diharapkan melakukan berbagai upaya demokratisasi agar ada upaya yang kian menguat untuk membongkar secara tuntas, mendalam, dan menyeluruh modus operandi dan keterlibatan semua pihak dalam kasus mafia pajak dan peradilan ini.

Tuntutan publik sekarang ini kian meningkat agar ada upaya dan metode kerja yang sungguh-sungguh dan sistematik untuk membongkar kasus secara luas, mendalam, dan utuh. Ketidakmauan dan ketidakmampuan mengakomodasi tuntutan publik dapat menjadi dasar menakar kesungguhan, sejauh mana reformasi yang jujur, sistemik, dan terstruktur dari semua pihak, terutama lembaga penegak hukum yang diduga terlibat, khususnya kepolisian.

“Pulang Kampung Nih..”

Post ini meneruskan tulisan saya tentang penundaan kedatangan Obama bulan April 2010.

Obama sang flamboyan akhirnya tiba di Indonesia. Sebagai insan muda yang belum terlalu berpengalaman dalam menilai kebijakan presiden AS kepada Indonesia, saya sendiri pada awalnya tidak meragukan keistimewaan Obama secara personal. Namun, kepedulian seseorang secara pribadi dan perhatiannya sebagai presiden adalah dua hal yang signifikan berbeda jauh. Dalam hubungan Indonesia-Amerika, ada alasan kuat untuk bersikap skeptis terhadap dampak jangka panjang kunjungan Obama, yang telah tertunda berkali-kali dan akhirnya minggu kemarin terealisasi hanya dalam waktu 18 jam atau kurang dari satu hari saja.

Menilik pada poin percaturan politik Indonesia sekarang, posisi Indonesia terletak jauh di bawah posisi Amerika dalam percaturan politik global. Di panggung dunia, Indonesia belum mampu memunculkan dirinya sebagai pemain menengah, apalagi aktor besar. Lebih terperinci, sumber daya politik yang dimiliki Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk membantu atau melawan Amerika, demi mengajukan kepentingan Indonesia sendiri, masih sangat minim dibandingkan dengan negara-negara lain. Kenyataan ini berarti mempertegas bahwa Indonesia mudah dilupakan atau dikesampingkan negara lain.

Contoh penting dan nyata terjadi adalah bidang ekonomi. Salah satu keperluan utama Amerika kini adalah pemulihan laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri setelah keguncangan krisis perbankan tiga tahun lalu. Berbicara fakta, di Asia hanya Cina yang bisa membantu pemulihan ekonomi mereka. Ini jelas terlihat karena SUN dan Obligasi perbankan Amerika saat ini dikuasai oleh Cina. Selain itu, fluktuasi nilai mata uang Yuan yang menguat drastis terhadap dolar Amerika membuat pemerintahan Obama harus mengedarkan uang ke pasar sebesar 600 juta USD demi menjaga stabilitas nilai tukar dolar di pasar global. Dari 2 contoh ini saja, bisa dipastikan bahwa memang Cina yang menjadi prioritas Amerika dalam melakukan proses integrasinya ke Asia.

Contoh kedua adalah konflik Amerika dengan gerakan-gerakan Islam radikal yang mengancam keamanan nasional mereka. Amerika gencar berperang di Irak dan Afganistan merunut pada serangan Al-Qaeda di New York dan Washington DC pada 11 September 2001. Sejak saat itu masyarakat Amerika merasa amat terancam oleh kelompok Islam radikal. Perlawatan Obama ke India kemarin harus dilihat dalam rangka kerja sama dengan Pakistan. Harapan Obama, obsesi Pakistan untuk mengusung senjata nuklir dengan ancaman India bisa diredakan sedikit demi sedikit kalau Amerika menjadi perantara di belakang layar konflik berkepanjangan ini.

Sejauh mana Indonesia bisa membantu Amerika dalam rangka mengajukan kepentingannya sendiri?

Selama ini, khususnya sejak awal masa pemerintahan Presiden Yudhoyono tahun 2004, usaha-usaha pemerintahan kita terjalin rapat, khususnya terhadap kelompok Islam radikal. Banyak gembong Jemaah Islamiyah yang terlibat tindakan teroris dibunuh atau ditangkap dan diadili. Reputasi Indonesia di mata dunia melonjak sebagai negara bermayoritas Muslim yang paling berhasil melenyapkan jaringan teroris.

Namun, kerja sama dalam bidang ini terbatas. Indonesia adalah negara dengan masyarakat Muslim terbesar di dunia serta negara demokratis terbesar ketiga, setelah India dan Amerika Serikat sendiri. Namun, hal itu tidak berimplikasi bahwa Indonesia memiliki pengaruh dan andil besar di Timur Tengah, Asia Tengah dan Selatan, tempat tinggal sebagian besar umat Islam di dunia. Klaim banyak pengamat dan pejabat bahwa Indonesia adalah semacam role model, suri teladan, bagi kekuatan prodemokrasi di dunia Muslim sama sekali tidak bergema di negara-negara bersangkutan. Pidato pertama Obama yang dialamatkan kepada umat Islam sebagai sahabat Amerika saja justru diucapkan di Kairo, bukan di Jakarta.  Bukannya bermaksud menyepelekan Indonesia atau kunjungan presiden Obama. Tetapi masyarakat Indonesia seharusnya bisa menempatkan kunjungan tersebut dalam kerangka realistis agar masyarakat Indonesia menjadi lebih sabar sekaligus lebih gesit dalam pendekatannya kepada pemerintahan Obama.

Setelah jatuhnya Orde Baru, Indonesia sudah masuk sepenuhnya dalam sebuah proses modernisasi bersejarah yang akan menentukan masa depannya selaku negara kebangsaan dan pemain internasional yang berbobot. Proses itu mengandung dua dimensi utama: pendirian lembaga-lembaga politik yang demokratis serta lembaga-lembaga ekonomi yang ramah kepada pasar domestik dan global. Tinggal bagaimana kita bisa melobi dan memosisikan diri kita sebagai mitra sejajar negara adidaya tersebut.

Pemerintah Amerika, di bawah seorang presiden yang bersimpati secara pribadi, bisa membantu banyak, misalnya melalui proyek-proyek bersama yang sedang ditingkatkan atau dirumuskan baru di bidang-bidang pendidikan, perlindungan lingkungan alam, perubahan iklim, perdagangan, dan penanaman modal. Namun, hasil maksimal akan bergantung kepada kesadaran orang Indonesia bahwa Amerika, termasuk presidennya, gampang terdistraksi. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat Indonesia sebaiknya tetap bersikap skeptis dan waspada, bersiap-siap terus untuk mengelola dan mengarahkan kebijakan Amerika demi pencapaian tujuan-tujuan Indonesia sendiri.

Prinsip Equilibrium Jawaban Integritas Pemerintah

Berikut adalah draft artikel saya yang dimuat di Harian Seputar Indonesia, 2 Oktober 2010.

“Soekarno tersohor dengan kewibawaannya. Soeharto terdepan sebagai bapak swasembada. Habibie maju dengan kemampuan teknologi. Gusdur sebagai figur pluralisme. Mega panutan kaum perempuan. SBY? Tokoh pencitraan yang apik” – Jeffrey Winters

Yang dibutuhkan oleh rakyat sekarang bukan obralan citra atau dialektika teoritis, tetapi kesediaan pemimpin untuk ikhlas melakukan pengorbanan politik. Sekalipun pemerintah harus melawan arus dengan mengorbankan popularitas, keberanian ini jauh lebih bermartabat karena itulah hakikat demokrasi yang sesungguhnya. Pemerintah harus mampu menempatkan diri di dalam masalah dengan segala konsekuensi logis sehingga bisa mengurai problematika bangsa dengan kejernihan hati dan kecerdasan akal budi.

Tetapi yang terjadi setahun ini adalah ironi. Pemerintah terlena terhadap kekuasaan, sering kali hanya meributkan permukaan persoalan yang ada, bukan pada substansi persoalan itu sendiri. Sehingga tidak mampu membedakan mana masalah, mana yang bukan masalah. Ujungnya, persoalan sepele menjadi semakin kompleks.

Jika benar setahun pemerintahan SBY-Boediono menginginkan konsistensi pada sebuah pencitraan, maka pemerintahan ini seharusnya bekerja lebih keras untuk membuktikan persepsi publik yang memosisikan mereka dalam pusaran negatif penuh skandal. Saat ini, pemerintah cenderung reaktif hanya ketika kewibawaannya diusik. Jelas terlihat melalui kasus British Petroleum di Amerika misalnya. Melihat ketegasan Obama menghadapi pencemaran di Teluk  Meksiko, Presiden buru-buru ambil tindakan yang seolah menggiring paradigma masyarakat pada ketegasan masalah Lumpur Lapindo. Realitanya? Kabar tersebut hilang dari peredaran dua minggu setelahnya dan tak pernah diisukan kembali.

Menilik sisi ekonomi, pemerintah seyogyanya mawas diri terhadap isu ekonomi akhir-akhir ini. Investasi bursa efek yang mayoritas menjalankan sistem uang ‘datang cepat, cepat pergi’ hanya akan memperbesar posisi Indonesia sebagai pasar spekulasi dan sama sekali tidak menambah pendapatan di sektor riil. Tetapi anehnya, pemerintah justru bersorak dengan perkembangan bursa efek nasional yang bergerak signifikan fluktuatif ini.

Ditambah dengan kebanggan berlebih pemerintah terhadap keanggotaan Indonesia di G-20. Perlu diingat, kejayaan ekonomi suatu negara tidak diukur dari akumulasi GDP yang besar, melainkan proporsi GNP yang kuat. Hal ini semakin diperparah dengan ambisi kurang realistis mengejar Cina dan India melalui pertumbuhan ekonomi 6%-7% per tahun. Pemerintah perlu sadar, mengalahkan Cina dan India tidak hanya cukup dengan angka-angka kuantitatif di atas kertas, tetapi bagaimana pemerintah mampu menggerakkan komponen makro yang bisa bersinergi dengan sehat.

Belum lagi kendala hukum yang masih stagnan pada personifikasi sebuah sistem. Ada baiknya pembentukan Satgas Mafia Hukum dan Peradilan oleh presiden SBY beberapa waktu lalu betul-betul diniatkan untuk memutuskan mata rantai mafia dan makelar kasus. Bukan hanya sekedar isu kerja yang implementasinya semu. Pemerintahan SBY-Boediono juga belum mampu menjawab beling-beling arogansi antar umat beragama yang seringkali masih mencederai wajah baru demokratisasi tanah air.

Pemerintah tak pernah bertindak tegas, lebih sibuk memberikan lontaran kasus reshuffle kabinet, video porno selebritis, dan polemik lagu ciptaan presiden. Masalah banjir Wasior saja pemerintah lamban tanggap, tak heran OPM dan RMS seringkali menggertak pemerintah pusat dan pemerintah sendiri seperti kelabakan tanpa arah. Malaysia dan Singapura acapkali memperolok negeri ini karena inkonsistensi para pemimpinnya. Pemerintah sendirilah yang sebenarnya membuat jati diri dan kewibawaannya hancur di mata masyarakat komunal Indonesia dan dunia.

Periode kepemimpinan SBY-Boediono memang masih cukup panjang dan tentu saja terjal. Betul, penilaian kualitatif tak bisa diukur dalam periode satu tahun saja, Namun alangkah baiknya jika pemerintah mau membuka diri terhadap sanggahan dan masukan konstruktif terhadap pembangunan. Presiden tidak perlu terlihat cantik, santun, dan berambut rapi di depan kamera untuk memberikan pernyataan defensif terhadap kritik problema yang ada. Di sinilah peran urgensitas titik equilibrium antara pencitraan dan prestasi yang dicapai sebagai jembatan kulminasi kebangkitan Republik Indonesia.

Mereka Bukan Anjing-Anjing Kelaparan

Berkiblat kepada kurangnya quality-management penanganan bencana pasca tsunami, gempa bumi, longsor dll, pemerintah terlihat serius menata manajemen penanganan bencana. Keseriusan tersebut terlihat nyata tatkala pemerintah mengeluarkan regulasi tentang penanggulangan bencana. Suatu tindakan yang patut diapresiasi, terlebih hal tersebut dilatabelakangi oleh kesadaran pemerintah bahwa wilayah NKRI memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana. Artinya, aparat pemerintahan serius belajar dari kesalahan dan ketidakcakapan menangani bencana yang selama ini terjadi, terutama sikap lambat pemerintah dalam mengambil tindakan darurat penanganan bencana.

Hanya saja, kegembiraan ini ternyata berlaku sesaat, kesalahan yang sama dalam penanganan bencana cenderung terus berlanjut. Setelah sekian kali menangani bencana alam dalam skala kerusakan yang cukup besar, ternyata pemerintah tidak mampu beranjak lebih maju dalam mengatasi hal tersebut. Permasalahan yang paling mencolok di sini adalah masalah pengelolaan bantuan berupa pendistribusian bantuan yang mengakibatkan korban-korban bencana kesulitan mendapatkan bahan pokok kebutuhan hidup, sementara bantuan yang ada justru menumpuk di posko logistik bencana. Dalam penanganan banjir di Wasior, Merapi, dan Mentawai misalnya, pemerintah terlihat tidak sigap dan bertindak kurang profesional dalam menyalurkan bantuan. Selalu menyalahkan kondisi cuaca yang kurang baik untuk menyalurkan bantuan.

Fakta ini dapat dicermati dari beragam testimoni korban di media masa yang mengungkapkan, betapa lambatnya pendistribusian bantuan tersebut. Mayoritas dari mereka menyatakan tidak mendapatkan bantuan makanan, minuman dan perlengkapan mengungsi yang optimal. Alhasil, terjadi tindakan penjarahan sebagai bentuk protes atas kelambanan distribusi bantuan tersebut. Tanpa menafikan kerja-kerja penanganan darurat bencana yang dijalankan, dapat dipastikan bahwa kericuhan tersebut berasal dari buruknya manajeman penanganan bencana. Penanganan darurat ini terkesan sangat tidak sistematis dan jauh dari sikap konsisten.

Bahkan yang sangat menyesakkan, lambannya pendistribusian ini ternyata disebabkan oleh birokrasi yang dibuat dalam sistem pendistribusiannya. Ketakutan akan ketidaktepatan alokasi pemberian bantuan tersebut menjadi latar belakang adanya birokrasi liar di posko-posko logistik. Sekilas alasan itu sangat logis. Namun bila dikaitkan dengan kondisi yang ada, alasan itu menjadi tidak tepat. Ketepatan sasaran dari pendistribusian bantuan ini adalah keniscayaan. Tetapi untuk menjamin kepentingan tersebut, sepatutnya tidak dilakukan dengan pola membangun birokrasi dadakan. Dalam situasi darurat, tentu saja birokrasi dadakan ini akan menambah kacau situasi. Hasil akhirnya toh birokrasi tersebut menghasilkan bantuan yang membusuk di posko-posko logistik, sementara korban-korban bencana alam tetap harus menerima nasib kekurangan kebutuhan dasar mereka.

Keadan ini tentu saja tidak akan terjadi bila pemerintah secara serius menyiapkan diri untuk menangani bencana. Dengan menyadari bahwa Indonesia rawan bencana, pemerintah tidak cukup memberikan solusi meratifikasi undang-undang namun gagap dan pincang dalam implementasinya. Pemerintah seyogyanya melakukan tindakan-tindakan yang lebih solutif dan prospektif maju. Sering juga kita lihat di media televisi bagaimana penyaluran bantuan dilakukan melalui helikopter, dengan menghempaskan kebutuhan para korban ke tanah. Sedangkan para korban tersebut berlarian mengais bantuan yang dilemparkan dari ketinggian 30 meterh. Ironis sekali bukan? Para korban bencana alam bukanlah anjing-anjing kelaparan, harga diri mereka sebagai manusia juga perlu dihormati. Pemerintah harus menghargai upaya mereka untuk bertahan hidup dan sebaliknya, pemerintah harusnya bisa menyiasati hal ini melalui tim kerja yang baik di lapangan.

Perlu adanya perencanaan kontijensi proses perencanaan penanganan bencana dalam keadaan vacuum of stability di mana skenario dan tujuan disepakati bersama. Penentuan tindakan manajerial teknis, dan ketepatan rancangan sistem distribusi mutlak harus diatur pelaksanaannya guna respon terhadap keadaan darurat. Perencanaan ini setidaknya dapat menjadi jalan keluar yang cepat dan tepat sehingga tidak lagi terjadi diversifikasi dan kekacauan akibat kebijakan yang dibuat mendadak. Alih-alih meringankan korban, yang ada korban bencana justru tetap menderita dan bantuan-bantuan fisik yang membusuk di posko-posko logistik. Parahnya, kejadian ini terjadi secara berulang dalam setiap penanganan bencana. Kalau keledai saja tidak mau terjerumus ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya, lalu haruskah bangsa ini selalu berkutat dengan kesalahan yang sama dalam penanganan bencana?

Sistem Kompetisi yang Kongruen dengan Sportivitas

Berikut adalah draft artikel saya yang dimuat di Harian Seputar Indonesia, 28 Oktober 2010.

Mulailah berhenti berfikir membuang uang untuk mengirim pemail lokal ke luar negeri karena hanya menambah rentetan ketidakpastian PSSI dalam menjalankan pola latihan berkelanjutan. Lebih baik anggaran uang tersebut diputar di dalam negeri. Toh dari segi ekonomi makro tidak akan merugikan keuangan negara. Di sini yang terpenting adalah iklim kompetisi dan mutu yang dihasilkan. Hanya dua hal inilah yang bisa menjadikan pemain sepakbola pada akhirnya bagus atau tidak. Masalah pendukung lainnya seperti persoalan fasilitas dan metode latihan, lambat laun pasti akan menyesuaikan, sepanjang ada kebutuhan dari kompetisi yang baik.

Buat zona-zona strategis untuk membuat kompetisi nasional merata. Misal Zona Jabodetabek, Zona Sumatera, Zona Kalimantan, Zona Bandung, Zona Semarang, Zona Jogja-Solo, Zona Makassar, Zona Bali, Zona Ambon-Papua, dan zona-zona potensial lainnya di luar Pulau Jawa. Pemain-pemain prospektif di daerah yang tidak punya zona khusus, bisa ditarik dengan sistem bapak angkat atau bapak asuh yang terverifikasi oleh PSSI. Misalnya, anak Lombok di latih dan disekolahkan di Zona Bali.

Zona-zona tersebut akan menciptakan persaingan di antara pemain-pemain yunior. Data mereka ditata dengan rapi sehingga mudah diakses. Secara otomoatis kita akan punya ribuan calon pemain yang bersaing secara kompetitif bersama-sama. Kemudian secara progresif, kita juga akan memiliki ratusan pelatih yang teruji kemampuan melatihnya, baik secara teknik maupun fisik. Kita akan dapatkan ratusan wasit yang punya integritas, pengurus klub dan pengurus liga yang kompeten. Dengan sistem kompetisi semacam ini, kita benar-benar membangun sepakbola, bukan hanya membangun pemain dan euphoria sesaat. Pola seperti ini akan membuat kesinambungan munculnya pemain-pemain berkualitas setiap tahun. Kalau ada pemain utama yang cedera, substitusinya akan cukup banyak dan kapasitas bermain mereka tidak terpaut jauh berbeda.

Diperlukan juga keberanian menantang pejabat pemerintah untuk ikut berinvestasi dalam kompetisi. Jika saja dana aspirasi setiap DAPIL sebesar Rp 15 Milyar diberikan kepada Persipura, maka Zona Papua-Ambon akan mampu membuat kompetisi yunior untuk kategori U12, U15, dan U18 sekaligus. Jika diasumsikan masing-masing zona tadi menghabiskan 5 milyar untuk pengembangan sepakbola, maka total dana yang diperlukan untuk seluruh zona ‘hanya’ 50 milyar per tahun. Kalau total dana aspirasi 15 milyar dikalikan dengan 32 jumlah propinsi di Indonesia, maka jumlah dana untuk zona sepakbola tak seberapa, dan masih sangat terlampau cukup berlebih untuk diproyeksikan pada kegiatan reunifikasi sepakbola lainnya. Belum lagi tambahan pendapatan melalui sponsor yang cukup signifikan.

Coba dibayangkan dengan dana 50 milyar tersebut hasilnya akan jauh lebih pasti untuk sebuah prestasi. PSSI hanya perlu memperbanyak coaching clinic bagi pelatih untuk menambah ilmu mereka. Masalah fasilitas sama sekali bukan hambatan meraih gugusan prestasi. Jika belum ada jaminan, pemain dapat melakukan latihan di lapangan permadani, lebih intensif dibandingkan dengan mereka yang berlatih di lapangan pasir! Soal fasilitas kebugaran, tidak ada barbel dari platinum, cukup dengan barbel dari semen dan alumunium saja karena yang terpenting dari sebuah pembinaan adalah porsi dan pola latihannya.

Jika pemain-pemain kompetisi tersebut meyakinkan secara kualitas dan database-nya lengkap, PSSI bisa saja me-link-kan mereka dengan klub-klub besar dunia yang membutuhkan pemain muda berbakat. PSSI cukup membuat website khusus dan bisa diakses oleh siapapun di seluruh dunia. Kalau data pemain tersebut valid, diotorisasi oleh PSSI, dan informasi berkembang terus sesuai dengan jalannya kompetisi, para talent scouter tim-tim besar eropa itu pasti akan berkunjung secara diam-diam ke Indonesia untuk memantau langsung. Mungkin bisa menggunakan teknolosi video seperti YouTube sebagai langkah awal. Tinggal bagaimana kita mewujudkan secara serius hal tersebut.

Sistem kompetisi yang terintegrasi dengan sendirinya akan menjawab riak-riak kericuhan suporter selama ini. Suporter sendiri bagaikan nyawa tambahan bagi sebuah tim. Mereka seringkali bermasalah karena mayoritas dari mereka hanyalah penggemar sepakbola, hanya tau dan hanya ingin menang. Mereka tidak pernah merasakan apa yang dinamakan dinamika kompetisi yang sebenarnya. Suporter seringkali membludak jumlahnya melebihi kapasitas fasilitas sepakbola yang tidak kongruen dengan kompetisi sepakbola yang berjalan. Mengapa pertandingan sepakbola identik dengan keributan? Karena sistem pertandingan yang kita anut sebagian besar adalah sistem turnamen. Karena sifatnya turnamen, selalu harus ada tim yang maju dan tersisih. Sementara mereka suporter, tidak punya ekspektasi lain terhadap pertandingan berikutnya. Sehingga kekalahan merupakan kiamat bagi mereka dan hasilnya mereka akan menghalalakan segala cara untuk menang. Untuk masalah ini, kembali ke jalan kompetisilah solusi yang tepat dan bijaksana.

Black and White

Monday mornings are pretty boring and it is very hard to kill my time. If you are one of those guys you find it very hard to kill the time on that term, these are few of the things you can try to kill it in campus – best part of the deal is this can be done using things available in campus. Inevitably fair to showing up the good one!

1992
This captured one day after my grandma’s funeral. See how cute I am!

1993
Turning point I was reading Qur’an the first time while others pity theirs! Proud

1994
The pose altered me to be the champion of ‘Kodak Photograph’s of The Year’. Thanks Mom and Dad, at least, I am famous!

1996
Look at the written one on the tie! First day of school, first time choked my friend’s neck! Oh bad.

2000
Personally hate this is unadorned and not entailed my character! Sure you laugh.

2002
How do I look like an Al-Qaeda’s member! Don’t call the FBI, obviously I’m not!

2003
Hell yeah you must be surprised I was one of the Taekwondo fighter! Green Belt I should behave like I used to! Wanna get fight, huh?

2004
Laughing uproariously! My first passport and the photo undoubtedly sucked!

2005
Citizenship ID, Chinese? No, don’t judge by it’s appearance! I’m Mongolian having exotic skin!

2007
What was up with my hair? It was too straight!

2008
I didn’t sleep well before the session started, so horrible! Passed the National Exam, horai.

2009
I’ve been getting much weight since it turned! Good I’m 74 kilos.

2010
How different by the years went by? Better put it on the gravestone?

Tembok China–Jepang ‘Roboh’, Amerika Ambil Kesempatan?

Hubungan Tokyo – Beijing semakin tegang dan mengkhawatirkan. Mungkin tidak ada negara di dunia ini yang senang dengan konflik antara  dua negara, kecuali Amerika Serikat.  Konflik Asia Timur seakan menjadi berkah bagi Amerika untuk berperan di kawasan Asia Timur dengan suatu alasan untuk memperpanjang eksistensi dan penempatan militer di teluk ‘berdarah’. Washington dengan cepat mengontak Pemerintah Jepang bahwa kekuatan militer Amerika siap untuk berada di belakang Jepang dan menggaransi militer mereka kepada Jepang sebagai bagian dari kekuatan Jepang seandainya Jepang diserang oleh Cina.

Pernyataan tersebut semakin kuat mengingat Amerika Serikat sendiri memiliki konflik dengan Cina terkait semenanjung Korea. Masalah nuklir Korea Utara memang menjadi ganjalan hubungan Cina – Amerika. Meski sama-sama anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Cina dan AS selalu terbentur oleh kenyataan bahwa mereka berada dalam dua kutub yang berlawanan. Cina mendukung Pyongyang dan sebaliknya AS mutlak menghajar habis-habisan negara pimpinan Kim Jong Il tersebut. Sehingga peran kedua negara ini dalam mencari solusi konflik di Semenanjung Korea acapkali stagnan.

Kini ketegangan Cina – Jepang menjadi  peluang besar bagi Amerika untuk memantapkan kebijakannya kembali fokus ke Asia. Konflik Beijing dan Tokyo merupakan reaksi terhadap keputusan Jepang menahan awak nelayan Cina yang ditu­duh menabrak dengan sengaja dua kapal patroli Jepang di Laut Cina Selatan.

Apa sebetulnya yang diresahkan Amerika terhadap China? Cosco berpendapat :

Hal ini dipicu oleh membesarnya porsi anggaran militer Cina yang naik signifikan setiap tahunnya. Pada Tahun 2009 Pemerintah Cina menaikkan anggaran militernya mencapai 70,2 miliar dolar AS. Kemudian pada tahun 2010 ini, Pemerintah Cina meningkatkan lagi anggaran pertahannya dengan besaran yang masih diperhitungkan. Hal yang juga diresahkan AS adalah peningkatan teknologi pertahanan Cina. Dalam beberapa dekade ini Cina terus menggenjot peningkatan teknologinya baik pada kedirgantaraan maupun pada kekuatan angkatan laut dan darat. Kedirgantaraan Cina kini menjadi perhatian besar pemerintah Hu Jintao. Selain memproduksi sendiri, Cina juga melakukan impor besar-besaran berbagai peralatan militer kepada Rusia. Teknologi Rusia dianggap telah dapat menyaingi teknologi AS – tanpa sama sekali terpengaruh krisis ekonomi!

Berbagai usaha AS untuk menghadapi kemungkinan buruk hubungan dengan Cina adalah penyebaran pangkalan militernya di berbagai kawasan Pasifik, termasuk pangkalan militer Okinawa yang sekarang ini menjadi sumber unjuk rasa warga Jepang. Pendekatan AS dengan Taiwan juga terus dilakukan meskipun hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan ini ditentang oleh Cina dan warga Taiwan yang masih setia kepada Beijing. Selain itu, AS juga membentuk satu Alliansi Strategis dengan India, negara yang sedang mengejar Cina menjadi kekuatan dunia yang penting.

Kini, AS melihat Cina sebagai naga besar yang sedang menggeliat baik dari segi ekonomi maupun militer. Perkembangannya sangat dinamis bahkan jauh lebih dinamis dibandingkan dengan masa kebangkitan barat sendiri. Cina memiliki karakteristik yang kuat dan sulit untuk ditandingi. AS pun tidak mampu untuk melemahkan ekonomi Cina, karena jaringan Cina justru ada dimana-mana. Perantauan Cina bukan saja sebagai imigran tetapi seakan seperti menteri perdagangan pada banyak negara yang siap menjalin perdagangan strategis dan menguntungkan dengan Cina. Gilanya hal seperti itu juga terjadi di  AS sendiri. Para etnis Cina di AS seperti pembuka pintu bagi produk apa saja yang diproduksi Cina. Hukum AS tidak mampu untuk menganggap apa yang dilakukan warga AS beretnis Cina ini sebagai pelanggar hukum, karena apa yang mereka perbuat adalah sah secara hukum. Mungkin ini pun terjadi di Indonesia.

Kemajuan ekonomi Cina telah diprediksi akan menyusul dan melampaui AS paling lambat dalam pertengahan abad ke 21 ini. Hal ini menimbulkan banyak pusing kepala bagi pimpinan AS. Sebab ekonomi yang makin maju berarti juga kemampuan yang makin meningkat untuk meluaskan pengaruh politik di seluruh dunia. AS juga sangat khawatir dengan kemampuan diplomasi Cina di Amerika Latin yang merupakan halaman belakang AS. Hal-hal semacam inilah yang sebetulnya sangat diresahkan oleh Amerika, mereka atakut kehilangan jati diri dan hegemoni bangsanya!

Bagaimana Sikap ‘Manis’ Cina terhadap ASEAN dan Indonesia sendiri?

Masih terdapat dua pertanyaan besar tentang hubungan ASEAN-Cina. Pertama, tidak semua pihak yakin bahwa Cina akan tetap peaceful dan pacifist dimasa yang akan datang. Bahwa Cina sekarang melakukan apa yang disebut sebagai bangkit dengan damai, mungkin saja hal ini ditunjukkan untuk menjawab kekhawatiran tentang Cina dan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kepentingan diplomasi dan kepentingan ekonomi Cina. Pertanyaan dan keraguan tentang Cina ini memang mewakili perspektif realis yang selalu melihat munculnya suatu kekuatan besar baru sebagai ancaman terhadap keseimbangan kekuatan dan stabilitas internasional. Pertanyaan ini akan terus mengemuka sejalan dengan peningkatan kekuatan militer secara dalam hampir dua dekade terakhir. Yang pasti sampai sekarang posisi Cina masih dapat digambarkan sebagai aset atau teman di kawasan Asia Tenggara. Bahkan hubungan Indonesia-Cina sekarang ini sedang mesra-mesranya.

Kedua, Selama ini Cina merasa nyaman dengan apa yang disebut sebagai ASEAN Way, konsensus, prinsip non interference, dan penghormatan kedaulatan nasional yang dikembangkan oleh ASEAN, termasuk partisipasi Cina di Forum-forum Asia Tenggara seperti ASEAN+3 dan ASEAN Regional Forum (ARF). Seberapa jauh ASEAN Community dan ASEAN Charter akan mengubah karakter kerja sama ASEAN yang akan berimplikasi pada hubungannya dengan Cina. Juga, masalah HAM dan demokrasi yang dikembangkan dalam ASEAN Security Community dan ASEAN Charter pasti akan melahirkan hubungan yang sensitif dengan Cina dimasa yang akan datang. Baik ASEAN dan Cina akan harus saling menyesuaikan diri sebagai konsekuensi dari konsolidasi internal ASEAN. Dan sikap saling percaya merupakan faktor kunci dalam menjawab tantangan Cina di masa depan.

Bipolar Muslim dan Amerika

Muslim Amerika tidak ditemukan hanya pada September 2001. Sejarah mereka di New York, dan juga di seluruh Amerika, jauh mendahului peristiwa tersebut. Beberapa kedatangan Muslim di Amerika pertama kali bersamaan dengan datangnya kapal-kapal budak yang melintasi Atlantik. Namun, kanker kebencian anti-Muslim yang menjangkiti seantero Amerika Serikat belakangan ini menyebar begitu ganas dan mengkahwatirkan, sampai-sampai membuat identitas ‘Amerika’ dan ‘Muslim’ saling bertentangan, berada dalam kutub yang berbeda. Ini tidak hanya berkaitan dengan rencana Park-51 yang dibangun dekat dengan Ground Zero, tetapi lebih didominasi oleh kepentingan para politisi, baik dari kubu Demokrat maupun kubu Republik.

Sekalipun pembangunan itu sesuai dengan konstitusi Amerika, yaitu soal kebebasan beragama, namun sentimen mayoritas masyarakat New York yang direpresentasikan oleh para politisinya menunjukkan paradoks demokrasi yang dianut oleh AS. Sejak awal propaganda media barat menjadikan kesalahpahaman sebagai substansi berita yang dikonsumsi milyaran warga dunia, karena sesungguhnya komunitas muslim tidak membangun mesjid dan semisalnya di ”Ground zero”, tapi di tanah luas yang jaraknya dua blok dari “Ground Zero” – lumayan jauh. Dengan berpikir objektif, dalam ruang demokrasi sejatinya tidak ada pelanggaran yang terjadi atas pembangunan tersebut. Toh Park-51 akan bersanding dengan pusat studi Kristen dan Yahudi dalam satu blok yang sama.

Obama konsisten dengan pernyataannya : ”Mereka punya hak yang sama melaksanakan kewajiban keyakinan mereka”. Dalam kesempatan berbeda ketika berbuka bersama dengan pemuka muslim di New York : ”mereka punya hak seperti warga negara lain, dengan keyakinan yang lain”. Sebuah bentuk dukungan Obama terhadap komunitas muslim, sekalipun kemudian di ralat oleh juru bicara gedung putih : ”presiden tidak mengurus soal kebijakan tingkat lokal (New york)”. Pernyataan beliau tersebut akhirnya juga melahirkan kecaman dari kubu Republik di Senat dan Kongres, dalam pandangan mereka, persoalnya bukan terletak pada masalah keyakinan tetapi lebih bernuansa masalah keamanan. Sekali lagi, di sana kita dapatkan sebuah tuduhan yang sangat stereotif terhadap suatu eksistensi agama. Komunitas Islam seolah menjadi ancaman bagi Amerika dan masa depannya. Bahkan seorang Obama pun akhirnya tidak mudah untuk menghentikan segala bentuk provokasi anti-Islam yang berkembang di masyarakat Amerika, termasuk rencana pendeta Terry Jones.

Beberapa waktu yang lalu, semua membayangkan dan menduga, jika pembakaran tersebut terjadi maka ini akan menjadi krisis yang serius, perang antar agama dan semisalnya. Atau ada dugaan sebaliknya, tidak memberikan efek apa-apa kecuali riak-riak kecil dalam bentuk demo yang berisi cacian dan makian. Tapi itu semua sporadis dan tentatif berlangsung hanya dalam beberapa waktu saja, akan hilang seiring dengan belitan problema-problema berikutnya, mulai dari soal ekonomi, hingga krisis pangan. Atau umat Islam khususnya di Indonesia sebagian besar akan membisu dan memaklumi, dengan bersikap sangat ‘toleran’ dan dianggap elegan kalau tidak terpancing atau merespon dengan tindakan-tindakan kekerasan tersebut.

Satu sisi yang tidak berbeda dalam konteks ini, pemerintah Indonesia terbiasa dengan situasi seperti ini akibat mandul politik luar negerinya. Tidak berusaha keras untuk menekan pemerintahan AS di bawah Obama yang sudah gembar-gembor cukup respek terhadap dunia Islam. Berupaya menghentikan kebebasan berekspresi yang diluar batas akal dan nurani manusia dari sekolompok orang dibawah kendali pendeta Terry Jones adalah perkara mudah, semua orang tahu itu!

Tapi sebaliknya, pemerintah dengan gerakan moderatisasinya berusaha membungkam reaksi umat Islam sendiri. Di tanamkan sikap toleran, moderat, dan menganggap semua itu bukan perkara serius yang perlu ditanggapi. Bahkan umat yang baik itu berdiam diri atas tindakan penghinaan di luar batas oleh manusia lain. Di sini sering kita melihat sikap aneh penguasa Republik Indonesia. Kenapa tidak mengamputasi wabah penyakit? Tapi sebaliknya memaksa dengan halus kepada umat Islam untuk menerima dan menganggap biasa diagnosa penyakit tersebut, seakan tak terjadi apa-apa. Wajar kalau kemudian umat ini kehilangan wibawa dan kehormatannya, di bawah kendali pemimpin yang tidak mengerti bagaimana berdarma untuk agamanya. Bisa jadi ketika Ka’bah kiblat umat Islam itu hangus di bombardir, penguasa RI juga akan diam seribu bahasa, dan akan lebih sibuk membungkam reaksi umat Islam dibandingkan dia menghukum orang yang telah menghinakan kepercayaan umat tersebut.

Entah apa yang meracuni pikiran saya bahwa negeri ini memang ‘boneka’ kecil Amerika. Jika Anda melihat pernyataan presiden RI beberapa waktu lalu, apa yang Anda pahami? Feel free to comment if you have the same thought about it!

Presiden SBY dalam pidato menanggapi isu pembakaran Al-Quran : “I love the United States, with all its faults. I consider it my second country.”

Reading is a Good Activity

Guys, do you ever know ‘Giant and Last Boy? A book that explores six-packs-potential? That book is funny, but it is also very true.

How many times do we get bent out of shape, and spend precious moments of our time (and every moment is precious), trying to convince someone just because they are wrong?

Think about it : there are over six and a half billion people on this planet. That is a lot, once again, a looot! But that number pales to insignificance when you consider the amount of knowledge available in the universe. Every detail of every action of all time. Every fact of every attribute of every event, and every object that ever occurred or existed. Every thought of every human in response to every stimulus in history!

That still blows me away.

When you consider the vastness of total knowledge, the amount you think you know becomes a tiny spot, indistinguishable in a lake of ink that spreads as far as the horizon way.

And then when you look at what you know, with an honest mind, how much do you really know? How many times have you held something with absolute conviction, yet only to rethink it as complete foolishness a few short years later? Hopefully many, many, many times. There is very little we can be sure of what we did. I won’t say, like many, that there is nothing that we can be sure of, which is foolishness. But the real majority of our knowledge is on very low ground.

So when you couple these two considerations together, you must realize the self-evident fact that the huge, vast majority of people in the world are just simply wrong about almost everything, including yourself (also myself).

This is a humbling, and a daunting prospect. Only God is absolutely right, with absolute knowledge. And it is insufferable arrogance to assume that we are anywhere close to Him in that regard – but in my point of view, no one is wrong about everything, each person has a certain measure of absolute truth in their keeping!

So what do we do when we find out that someone is wrong?

Well most of the time we can simply pass on. We have other things to do. At least, hopefully we do. There are only a very few, very rare situations in which it is appropriate and helpful to address someone’s perceived error – LOL

And even then, first make sure that you are really in disagreement. The vast, vast majority of perceived disagreements are just that, perceived. It is extremely easy to mistake someone’s point of view. And it is even easier to assume that they believe things that they really don’t. You might be in agreement on everything they say except for one small point.

Then, don’t attack. Being mistaken is never a sin itself even in matters of doctrine, and it is rarely very bad either. It can be dangerous, though, which should motivate us to be as kind and unselfish as possible in helping the other person.

Wyatt Roy

Sebelumnya saya ingin bertanya, apakah Anda mengenal sosok ini? Tak banyak di antara kita mengenal, atau sekedar mengetahui seorang Wyatt Roy. Ya, dia adalah anggota parlemen termuda di Australia, atau mungkin politisi termuda di dunia! Pencapaian politik Wyatt terbilang cukup unik. Ia memulai karirnya di University of Queensland sebagai asisten pastisipan orang-orang cacat. Langkah kecil ini mulai membuatnya berfikir untuk bisa membuat kebijakan yang menguntungkan mereka, tanpa ada diskriminasi pemerintah. Semenjak itu, berturut-turut ia mengikuti seleksi partai di Australia hingga akhirnya bergabung dengan Longman. Di Longman inilah, karir Wyatt memasuki fase ‘matang’ dengan terpilih secara mengejutkan untuk maju sebagai wakil partai ini yang akan duduk di kursi parlemen Australia. Melalui sokongan kompetitornya di partai yang jauh lebih tua, Tony Abbott dan Warren Truss, pria kelahiran 22 Mei 1990 ini pada akhir Agustus lalu berhasil menduduki kursi parlemen Australia mewakili Partai Liberal Nasional Negara Bagian Queensland. Sejarah Australia pun mencatat, Wyatt merupakan remaja termuda yang mampu menduduki kursi parlemen setelah Edwin Corboy pada tahun 1920-an.

6 langkah strategis Action Plan Wyatt

1. Menurunkan rasio hutang
2. Merangsang pertumbuhan bisnis kecil
3. Upaya perlindungan lingkungan
4. Minimalisasi imigran gelap
5. Reformasi pelayanan kesehatan
6. Jaminan ketersediaan air bersih

Follow Him on Twitter
@WyattRoy