Sistem Kompetisi yang Kongruen dengan Sportivitas

Dimuat di Harian Seputar Indonesia, 28 Oktober 2010.

Mulailah berhenti berfikir membuang uang untuk mengirim pemail lokal ke luar negeri karena hanya menambah rentetan ketidakpastian PSSI dalam menjalankan pola latihan berkelanjutan. Lebih baik anggaran uang tersebut diputar di dalam negeri. Toh dari segi ekonomi makro tidak akan merugikan keuangan negara. Di sini yang terpenting adalah iklim kompetisi dan mutu yang dihasilkan. Hanya dua hal inilah yang bisa menjadikan pemain sepakbola pada akhirnya bagus atau tidak. Masalah pendukung lainnya seperti persoalan fasilitas dan metode latihan, lambat laun pasti akan menyesuaikan, sepanjang ada kebutuhan dari kompetisi yang baik.

Buat zona-zona strategis untuk membuat kompetisi nasional merata. Misal Zona Jabodetabek, Zona Sumatera, Zona Kalimantan, Zona Bandung, Zona Semarang, Zona Jogja-Solo, Zona Makassar, Zona Bali, Zona Ambon-Papua, dan zona-zona potensial lainnya di luar Pulau Jawa. Pemain-pemain prospektif di daerah yang tidak punya zona khusus, bisa ditarik dengan sistem bapak angkat atau bapak asuh yang terverifikasi oleh PSSI. Misalnya, anak Lombok di latih dan disekolahkan di Zona Bali.

Zona-zona tersebut akan menciptakan persaingan di antara pemain-pemain yunior. Data mereka ditata dengan rapi sehingga mudah diakses. Secara otomoatis kita akan punya ribuan calon pemain yang bersaing secara kompetitif bersama-sama. Kemudian secara progresif, kita juga akan memiliki ratusan pelatih yang teruji kemampuan melatihnya, baik secara teknik maupun fisik. Kita akan dapatkan ratusan wasit yang punya integritas, pengurus klub dan pengurus liga yang kompeten. Dengan sistem kompetisi semacam ini, kita benar-benar membangun sepakbola, bukan hanya membangun pemain dan euphoria sesaat. Pola seperti ini akan membuat kesinambungan munculnya pemain-pemain berkualitas setiap tahun. Kalau ada pemain utama yang cedera, substitusinya akan cukup banyak dan kapasitas bermain mereka tidak terpaut jauh berbeda.

Diperlukan juga keberanian menantang pejabat pemerintah untuk ikut berinvestasi dalam kompetisi. Jika saja dana aspirasi setiap DAPIL sebesar Rp 15 Milyar diberikan kepada Persipura, maka Zona Papua-Ambon akan mampu membuat kompetisi yunior untuk kategori U12, U15, dan U18 sekaligus. Jika diasumsikan masing-masing zona tadi menghabiskan 5 milyar untuk pengembangan sepakbola, maka total dana yang diperlukan untuk seluruh zona ‘hanya’ 50 milyar per tahun. Kalau total dana aspirasi 15 milyar dikalikan dengan 32 jumlah propinsi di Indonesia, maka jumlah dana untuk zona sepakbola tak seberapa, dan masih sangat terlampau cukup berlebih untuk diproyeksikan pada kegiatan reunifikasi sepakbola lainnya. Belum lagi tambahan pendapatan melalui sponsor yang cukup signifikan.

Coba dibayangkan dengan dana 50 milyar tersebut hasilnya akan jauh lebih pasti untuk sebuah prestasi. PSSI hanya perlu memperbanyak coaching clinic bagi pelatih untuk menambah ilmu mereka. Masalah fasilitas sama sekali bukan hambatan meraih gugusan prestasi. Jika belum ada jaminan, pemain dapat melakukan latihan di lapangan permadani, lebih intensif dibandingkan dengan mereka yang berlatih di lapangan pasir! Soal fasilitas kebugaran, tidak ada barbel dari platinum, cukup dengan barbel dari semen dan alumunium saja karena yang terpenting dari sebuah pembinaan adalah porsi dan pola latihannya.

Jika pemain-pemain kompetisi tersebut meyakinkan secara kualitas dan database-nya lengkap, PSSI bisa saja me-link-kan mereka dengan klub-klub besar dunia yang membutuhkan pemain muda berbakat. PSSI cukup membuat website khusus dan bisa diakses oleh siapapun di seluruh dunia. Kalau data pemain tersebut valid, diotorisasi oleh PSSI, dan informasi berkembang terus sesuai dengan jalannya kompetisi, para talent scouter tim-tim besar eropa itu pasti akan berkunjung secara diam-diam ke Indonesia untuk memantau langsung. Mungkin bisa menggunakan teknolosi video seperti YouTube sebagai langkah awal. Tinggal bagaimana kita mewujudkan secara serius hal tersebut.

Sistem kompetisi yang terintegrasi dengan sendirinya akan menjawab riak-riak kericuhan suporter selama ini. Suporter sendiri bagaikan nyawa tambahan bagi sebuah tim. Mereka seringkali bermasalah karena mayoritas dari mereka hanyalah penggemar sepakbola, hanya tau dan hanya ingin menang. Mereka tidak pernah merasakan apa yang dinamakan dinamika kompetisi yang sebenarnya. Suporter seringkali membludak jumlahnya melebihi kapasitas fasilitas sepakbola yang tidak kongruen dengan kompetisi sepakbola yang berjalan. Mengapa pertandingan sepakbola identik dengan keributan? Karena sistem pertandingan yang kita anut sebagian besar adalah sistem turnamen. Karena sifatnya turnamen, selalu harus ada tim yang maju dan tersisih. Sementara mereka suporter, tidak punya ekspektasi lain terhadap pertandingan berikutnya. Sehingga kekalahan merupakan kiamat bagi mereka dan hasilnya mereka akan menghalalakan segala cara untuk menang. Untuk masalah ini, kembali ke jalan kompetisilah solusi yang tepat dan bijaksana.

Advertisements

One thought on “Sistem Kompetisi yang Kongruen dengan Sportivitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s