New Media, Jawaban Taktis Reinkarnasi Sumpah Pemuda

Dimuat di Harian Seputar Indonesia, 7 November 2011.

Sumpah pemuda, tak lebih dari hanya ucapan tanpa makna. Apabila kita mengulas sejarah, merenungkannya, tapi tak berani menyamai mereka. Menjadi saksi keberanian pemuda dalam menyusun dan mengikrarkan sumpah dalam diri mereka. Pertanyaan ini mengusik kesadaran kita, apakah di era teknologi informasi sekarang ini, pemuda siap berikrar kembali untuk terus mempertahankan Sumpah Pemuda hingga negara ini setidaknya bergeser ke arah yang lebih baik?

Pertanyaan tersebut dapat terjawab oleh perkembangan teknologi komunikasi akhir-akhir ini. Booming-nya perkembangan iptek mengakibatkan munculnya teknologi-teknologi yang mendukung interkoneksi komunikasi new media. Teknologi jejaring sosial seperti: Facebook, Twitter, Blog, Youtube, dan forum diskusi online lainnya menjelma menjadi tren yang begitu digandrungi oleh generasi muda.

Dengan tren jumlah pengguna yang cenderung meningkat signifikan dengan cepat, hal ini membuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk melakukan transformasi sosial melalui media-media tersebut. Lebih lanjut, teknologi new media yang berkembang sekarang seharusnya mampu dijadikan cambukan bagi generasi muda Indonesia untuk aktif bergerak membawa dinamika perubahan bangsa dan saran berkompetisi di kancah global.

Sampai hari ini, aktivitas generasi pemuda di Indonesia tidak hanya dibentuk oleh penggunaan teknologi, tapi juga disokong oleh proses pembelajaran berkesinambungan antara penguasaan teknologi dan perkembangan aktivitas pemuda itu sendiri. Ada hubungan timbal balik antara bagaimana aktivitas pemuda dibentuk oleh penggunaan internet dan new media, serta bagaimana internet dan new media tadi menjalankan peran sebagai interface aktivitas pemuda.

Sayangnya, selama ini media-media yang ada terbatas hanya menjadikan pemuda sebagai konsumen atas produk-produk yang mereka hasilkan. Mereka kurang memberikan akses yang memadai pada keaktifan generasi muda untuk menyuarakan opini mereka, baik yang terkait dengan persoalan-persoalan atau isu-isu strategis yang berkembang di tataran lingkungan keluarga masyarakat maupun di tatanan negara.

Contohnya, dalam forum pembahasan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, media khususnya televisi dan radio hanya berfokus pada kelompok politisi, akademisi ataupun bakan selebriti untuk menyampaikan opini mereka. Media-media tersebut cenderung melupakan urgensitas suara pemuda sebagai elemen masyarakat yang juga mempunya peran yang tak kalah penting. Kebekuan dan keterbatasan akses pemuda atas polemik penting di media inilah yang kemudian juga melahirkan fenomena sebagian pemuda beralih pada teknologi jejaring media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Blog untuk meyuarakan pemikiran-pemikiran mereka.

Namun, apakah dinamika pemuda di jejaring sosial ini membuat mereka lebih berdaya atau suara mereka lebih didengarkan? Belum tentu, karena pemanfaatan new media sejauh ini baru dilakukan secara individu, institusi, dan isidental. Tidak terintegrasinya suara individu-individu pemuda dalam satu wadah gerakan yang solid hanya akna menjadikan pemanfaatan new media tidak efektif untuk tujuan perubahan yang hakiki.

Setiap pergerakan seperti tidak bersambung di hulu dan hilir. Situasi ini lebih jauh menghasilkan generasi-generasi muda yang tidak peduli dan tidak peka terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat walaupun sebetulnya persoalan tersebut bisa diselesaikan secara efisien. Mengapa? Karena mereka lebih mementingkan elemen-elemen yang ingin dituju oleh organisasi yang mereka naungi. Di sini tidak ada intermediary dan kesinambungan antar gerakan-gerakan yang ada.

Selayaknya harus ada gerakan di bawah naungan satu atap yang ditujukan untuk membangun gerakan yang mampu menampung pemuda untuk mereposisi diri dari sekedar konsumen pasif media menjadi pelaku aktif penyebaran informasi. Hal ini terkait dengan suara pemuda sendiri terhadap perosalan-persoalan strategis yang berkembang di masyarakat, misalnya kasus korupsi yang marak, masalah perbatasan terluar Indonesia, perdebatan subsidi ekonomi, komersialisasi pendidikan, hingga konflik Papua, dll. Untuk mendukung hal ini, pemuda perlu terlebih dahulu merebut kembali peran mereka sebagai pemain utama media.

Akses atas media ini nantinya bisa dimanfaatkan oleh generasi muda untuk mempublikasikan output-output yang berisi suara atau masukan pemuda untuk masyarakat dan tatanan negara terkait isu yang meresahkan publik. output tersebut bisa berupa tulisan, rekaman audio, atau bahkan video. Untuk memperluas gaung gerakan ini dan memperbesar segmen publikasi suara pemuda, gerakan ini harus memosisikan diri sebagai penghubung antara pemanfaaatan jejaring sosial, yakni Facebook, Twitter, Blog, dll dengan konflik yang ada.

Lebih lanjut, dengan memanfaatkan media-media tersebut di atas, transformasi sosial di masyarakat sangat mungkin terwujud. Hal ini merupakan sebuah langkah maju bagi generasi muda dalam menjaga semangat Sumpah Pemuda demi keutuhan NKRI. Namun, jalan dan perjuangan masih berat, panjang, dan berliku. Generasi muda harus mampu menjaga semangat dan teguh pada idealisme masing-masing untuk terus menjadi motor pembangunan Indonesia demi mencapai masyarakat adil, makmur, dan sejahtera. Generasi muda Indonesia saat ini sudah memiliki modal besar teknologi new media untuk melakukannya, tinggal bagaimana niat dan kerelaan mereka untuk mewujudkannya betul-betul diterapkan secara konsisten.

Selamat Hari Sumpah Pemuda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s